Sarasehan Budaya Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda 2023, Bahas Eksistensi Kebudayaan dalam Muhammadiyah

Sarasehan Budaya Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda 2023, Bahas Eksistensi Kebudayaan dalam Muhammadiyah

Bantul–Sarasehan Budaya yang diselenggarakan di SaRanG Building, pada Jumat (22/12/2023) menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda 2023. Kegiatan ini mengangkat tema “Muhammadiyah dan Pembaharuan Intelektual: Seni dan Budaya sebagai Katalisator Membangun Peradaban Islam di Tengah Ketidakpastian Global”

Dipandu oleh Jumadil Alfi (Seniman) & Ahimsa Wardah Swadeshi (Lembaga Seni dan Budaya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta), kegiatan ini mengundang Ifa Fitia Nadia (Peneliti Sejarah), Arahmaiani (Seniman), Makhfud Ikhwan (Novelis), Riki Dhamparan Putra (Budayawan), dan Dr. Tafsir, M.Ag (Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah) sebagai narasumber. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pembacaan Puisi oleh Heru Joni Putra (Budayawan).

Ifa bercerita mengenai pergerakan feminisme dalam sejarah, bagaimana beberapa kejadian sejarah digerakkan oleh perempuan-perempuan di masa lalu.

“Mari kita sebagai lelaki dan perempuan bekerja bersama untuk membangun budaya caring bagi kemanusiaan. Kita menghormati kehidupan, mengembalikan kehidupan,” katanya.

Kemudian, Rahmaiani menjelaskan mengenai keadaan ekologis di dunia ini, betapa banyaknya masalah yang berkaitan dengan keadaan lingkungan hidup di masa sekarang. 

“Kerja saya adalah melestarikan lingkungan hidup dengan berbagai pihak dari berbagai macam latar belakang. Dasarnya semua keyakinan adalah sama, yakni welas asih kepada semua. Masalah global harus dihadapi secara komunal,” jelasnya.

“Leluhur nusantara sebetulnya secara kebudayaan sangat luhur, bijak, bisa merangkul semua, maka muncul prinsip “bhineka tunggal ika”. Ketika kita tidak memahami hal itu, kita akan mudah diadu domba,” lanjutnya.

Sementara itu, Mahfud menerangkan mengenai sifat kebudayaan yang universal, selalu hadir dalam kehidupan manusia, meskipun ia selalu berusaha untuk dibendung.

“Saya ingin kita memikirkan bahwa pola-pola keragaman itu harus dirawat, karena orang-orang akan secara alami mengekspresikan diri. Bermuhammadiyah atau menjadi muhammadiyah tidak memadamkan semangat berkebudayaan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Tafsir menjelaskan, bahwa jika kita berbicara soal dakwah kultural di Muhammadiyah itu bukan soal boleh-tidak boleh, tetapi tentang berani-tidak berani karena nyatanya kita terlalu terbebani oleh pemahaman akan purifikasi yang kaku.

“Purifikasi adalah otentifikasi, mencari islam yang sejati, bukan sebatas teks, tapi konteks. Dalam perspektif pemahaman dan pengamalan islam boleh berubah sesuai zaman dan waktu, yang tidak berubah adalah ayat Al-Quran dan Hadisnya. Islam yang otentik adalah apresiasi pada budaya, karena nabi Muhammad sangat kultural,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Riki kemudian memberikan perumpamaan terkait dengan apa yang disampaikan oleh Tafsir.

“Muhammadiyah seperti motor, motor bagus tapi ketinggalan sama motor bebek, Ahmad Dahlan menyadari bahwa Indonesia akan mengalami kebudayaan yang baru, maka kebudayaannya dicoba diperbarui. Inilah yang seharusnya dilakukan Muhammadiyah masa kini,” pungkasnya.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Heru. Heru membacakan dua puisi yang berjudul “Jenggot Haji Agus Salim” karyanya sendiri dan “Wirid Simsalabim” karya Riki Dhamparan Putra.

Add a Comment

Your email address will not be published.

Call for Paper

Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda