Podium JIMM#1 Mendiskusikan Nasib Dunia Akademik di Tengah Gempuran AI
Siklus kehidupan mengharuskan adanya perkembangan. Terlebih di dunia akademik, perubahannya begitu dinamis dan cepat. Belakangan ini, dunia digemparkan dengan adanya Artificial Intelligence (AI). Tentu ini menjadi perbincangan yang masif di dunia akademik dan memberikan beragam respons, sebab kemajuan pesat AI menimbulkan kekhawatiran serta rasa takut, namun juga ada sebagian besar yang menganggap kehadiran AI justru menjadi harapan baru dari perkembangan teknologi.
Menanggapi wacana AI ditengah dunia akademik, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) mengadakan diskusi yang mengangkat tema Nasib Dunia Akademik di Tengah Gempuran AI pada Ahad, 28 Juli 2024. Diskusi perdana ini menghadirkan narasumber yang aktif sebagai akademisi yaitu Destita Mutiara salah satu alumni Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Mada, Ilham Akhsanu Ridlo selaku Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan mahasiswa doktoral di LMU Munich, Jerman serta menghadirkan seorang dosen tidak tetap the University of Queensland Australia dan seorang Incoming Research Fellow di Department of International Politics Aberystwyth University, Wales, Ahmad Rizky M. Umar dengan dipandu oleh Presidium JIMM, Yahya Fathur Rozy.

Destita Mutiara menyebutkan bahwa sebenarnya prinsip teknologi adalah sebagai tools untuk mempermudah manusia mengerjakan urusan dengan lebih cepat. Begitupun dengan AI, menurutnya kehadiran AI bisa digunakan guna membantu manusia. Lebih lanjut, Destita mengungkapkan AI bisa dimanfaatkan sebagai penunjang sehingga masih percaya bahwa posisi AI bisa membantu kita, terlebih bagi mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Ahmad Rizky M. Umar juga menyebutkan kehadiran AI memang memudahkan manusia. Namun menurut Umar, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam penggunakan AI. Pertama, memanfaatkan AI sembari menyelaraskan dengan etik. Kedua, perlu adanya kolaborasi dalam penggunaan AI. Ketiga, Umar menyebutkan perlu ada medium feedback di dalam tugas mahasiswa. Berbicara menyoal etik, Ilham Akhsanu Ridlo merespon penggunaan AI bukan perihal boleh atau tidak boleh, melainkan tentang bagaimana mahasiswa dan dosen mampu mengacu pada standar untuk mendorong critical thinking.
Diskusi ini diadakan melalui zoom dengan jumlah peserta lebih dari 20. Bayujati Prakoso, salah satu peserta yang juga sebagai dosen di Uhamka menyampaikan pengalamannya mengajar mahasiswa. Dari temuan pengalaman tersebut, Bayujati menyimpulkan kehadiran AI memberikan dua dampak di dunia akademik. Pertama, dampak negatif adanya AI yaitu lebih instannya tools ini membantu mahasiswa, akan menimbulkan risiko kurangnya riset atau penggalian mendalam. Ini menurut Bayujati akan menyebabkan beberapa karya tidak ada kejelasan referensi. Kedua, disamping memang adanya risiko, sebenarnya kehadiran AI juga memiliki nilai positif. Bayujati menyebutkan dengan adanya AI tentu akan membantu kita untuk mengeksplorasi beragam ide dan pandangan.
Meski sepakat menjadikan AI sebagai tools di dunia akdemik, Ayunda salah seorang mahasiswi Magister Universitas Gajah Mada memilih untuk tidak menggunakan AI sejauh ini. Sebab menurutnya, dirinya memang suka menulis dan ingin belajar, sehingga Ayunda lebih tertarik untuk menghadirkan tulisan hasil dari buah pikirnya sendiri.
Pada dasarnya, kehadiran AI tentu memberikan efek pada beberapa aspek akademik. Baik di dunia pendidikan, penelitian, maupun percetakan dan lainnya. Menurut Ilham, diskusi semacam ini tidak seharusnya berhenti hanya pada satu pertemuan. Perlu adanya feedback berkelanjutan yang terus didiskusikan. Dalam sesi closing statement, Umar menyebutkan kehadiran AI bisa mendorong dosen untuk mendesign kelas dan pembelajaran lebih kreatif, semisal memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat artikel dengan tujuan membiasakan mereka menggali ide kreatif dan melahirkan autentikasi gagasan.