Momen yang tak kalah Penting bagi Intelektual (Muda) Muhammadiyah
Lyon, Prancis – Hari ini momen penting demokrasi Indonesia digelar. Acara debat Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) pertama hari ini digelar oleh Komisi Pemilihan Umum yang mengadu gagasan semua Pasangan Calon (Paslon) yang bertarung Februari 2024 besok.
Momen kedua yang tak kalah penting bagi intelektual Muhammadiyah adalah sesi defend Dr. Andar Nubowo yang hari ini memaparkan riset dan pemikirannya tentang “The Genesis of a Justly-Balanced Islam in Indonesia: History and Scope of the Institutionalisation of an Ambiguous Notion“.
Acara ini dilangsungkan di Descarter Salle D4-070-NS de Lyon 15 parvis Rene Descartes, Lyon, Prancis. Andar menyampaikan orasi ilmiahnya yang akan dipertahankan selama 30 menit. Selanjutnya diskusi dan tanya jawab kurang lebih 2,5 jam. Semuanya dilakukan dalam bahasa Prancis.
Apa isi Disertasinya?
Secara singkat disertasi Andar menganalisis sejarah institusionalisasi “Islam yang Seimbang” di Indonesia, sebagai respons terhadap radikalisme Islam dan ancaman terorisme.
Sejak Mei 2018, Indonesia mengadopsi prinsip “Islam Wasathiyah” yang diprakarsai oleh Presiden Joko Widodo, menginkorporasi Islam yang inklusif, terbuka, dan menghormati keberagaman agama.
Penelitian ini mengkaji penggunaan konsep Islam seimbang dalam Al-Qur’an untuk menetralisir objeksi Islamis, serta menggali dimensi diplomasi dalam membangun legitimasi Islam Indonesia di kancah internasional.
Selain itu, penelitian ini membahas bagaimana organisasi Islam moderat, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bersama negara mengelola urusan keagamaan, bergeser dari doktrin Pancasila ke Islam yang mencari keseimbangan internal, namun berisiko menjadi lebih konservatif dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan minoritas agama.
Andar adalah salah satu mentor dan rujukan anak-anak muda Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah yang hingga detik ini masih terus memberikan letupan dan dorongan bagi anak-anak muda Muhammadiyah untuk lebih menempuh jalur intelektualnya. Harus diakui jalur ini semakin jarang ditempuh karena memang tidak menjanjikan apa-apa di iklim yang serba materialistis.
Walaupun idealisme harus sering bersinggungan dengan kompromi pragmatis ini lebih karena pilihan strategi dan pola gerakan intelektual. Tidak berlebihan jika lulusnya Andar dimaknai dengan kembalinya salah satu intelektual “Barat” yang menempuh perjalanan intelektual kembali ke Muhammadiyah.
Félicitations Monsieur le Docteur, Andar!
Longévité de la révolution.