Menjembatani Kajian Agama Lewat Jurnal Ilmiah
Jabatan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga tidak menghalangi Zakiyuddin Baidhawy untuk terus berkarya. Produktivitasnya dalam menghasilkan karya tulis ilmiah telah mendorongnya untuk berperan dalam mendirikan Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS), sebuah jurnal yang saat ini telah terindeks dalam database Scopus. Jurnal ini didirikan untuk menjadi wadah kepenulisan ilmiah yang kredibel bagi komunitas akademik di UIN Salatiga.
Sebelum menjadi rektor, Zakiyuddin berkeinginan untuk berkontribusi dalam membangun jurnal ilmiah tersebut. Dia meminta Ketua STAIN Salatiga saat itu untuk menjadikannya sebagai salah satu redaktur di jurnal tersebut. Keputusan ini berdampak positif dan IJIMS kini memiliki pengaruh yang signifikan dalam dunia akademik di kampus tersebut. Meskipun saat itu STAIN Salatiga telah memiliki dua jurnal ilmiah, keduanya belum terakreditasi.
Pada tahun 2010, Zakiyuddin memimpin tim untuk mengajukan pendirian program pascasarjana di UIN Salatiga. Tim tersebut berhasil mendapatkan izin operasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) pada akhir tahun 2010. Zakiyuddin kemudian diangkat sebagai asisten Direktur Pascasarjana Bidang I yang bertanggung jawab dalam aspek akademis.
Sebagai bentuk tanggung jawab di bidang akademis, Zakiyuddin menjadi inisiator dalam pembentukan jurnal baru bernama IJIMS di bawah sekolah pascasarjana. Jurnal ini awalnya terbit dalam bahasa Inggris dan Arab, namun kemudian beralih ke bahasa Inggris dalam edisi selanjutnya.
Dengan pengalaman mengelola jurnal saat bekerja di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Zakiyuddin berhasil mengelola IJIMS dengan baik dan memanfaatkan jaringan yang dimilikinya. Ia berupaya untuk mendapatkan artikel terbaik dari penulis yang mewakili lima benua.
Pada tahun 2014, Zakiyuddin dan timnya mulai merintis akreditasi IJIMS. Jurnal ini mencetak sejarah dengan mendapatkan predikat A dalam akreditasi pertama, meskipun saat itu IJIMS masih baru berdiri. Zakiyuddin dan timnya menyusun peta jalan untuk tiga tahun berikutnya agar IJIMS dapat mencapai akreditasi internasional. Pada tahun 2017, IJIMS akhirnya berhasil terindeks dalam database Scopus.
Ketika menjadi jurnal terakreditasi A pada tahun 2014, IJIMS juga menjadi jurnal terakreditasi A keempat di lingkungan Kementerian Agama. Prestasi ini membuat Zakiyuddin bangga, karena tiga jurnal lainnya yang berada di peringkat atas berasal dari perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) besar seperti UIN Sunan Kalijaga, UIN Syarif Hidayatullah, dan UIN Sunan Ampel, sementara IJIMS saat itu masih dikelola oleh STAIN Salatiga.
Pada tahun 2017, IJIMS terindeks dalam database SCImago dan mendapatkan predikat kuartil I (QI), yang hingga saat ini berhasil dipertahankan. IJIMS juga meraih gelar jurnal terbaik pertama di Asia dalam bidang studi keagamaan.
Zakiyuddin mengakui pentingnya dua pendekatan dalam kajian Islam, yakni pendekatan tekstual dan pendekatan kontekstual. Namun, dia juga menekankan bahwa kedua pendekatan ini harus bersatu dan tidak saling mengklaim otoritas. IJIMS berperan sebagai jembatan untuk memperkaya pemahaman tentang Islam dengan menggabungkan kedua pendekatan ini.
Demikianlah peran besar Zakiyuddin Baidhawy dalam mengembangkan IJIMS dan menggabungkan pendekatan tekstual dan kontekstual dalam kajian Islam. IJIMS telah berhasil menjadi jurnal terkemuka dalam studi keagamaan dan memberikan kontribusi berharga bagi dunia akademik.
Sumber: INSPIRA-Solo Pos, Sabtu Pon-Minggu Wage, 14-15 Oktober 2023