Islam Butuh Nabi Baru

Oleh: Rahmat Rusma Pratama (Koordinator JIMM Solo Raya)

Kita sama-sama memahami bahwa komunitas agama terbesar di Indonesia adalah Islam sekitar 80 persen pemeluk. Islam sebagai agama terbesar di Indonesia tiga tahun terakhir telah kehilangan elan vitalnya di tengah situasi keumatan yang terus di zalimi oleh orang-orang rakus dan nir-etika. Baru-baru ini sekelompok orang bersekongkol mencuri duit negara triliunan rupiah di tengah masih banyaknya kaum mustad’afin kaum yang masih belum merdeka secara ekonomi, pendidikan dan akses hukum. Dari kekacauan bangsa ini mau disalurkan ke mana amarah rakyat ini, turun ke jalan adalah jalan yang telah ditempuh oleh kalangan mahasiswa.

Tetapi dengan turun ke jalan juga tidak sepenuhnya berhasil, mereka terlalu lemah berhadapan dengan represifitas polisi di lapangan. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar adalah ke mana kaum intelektual Islam, ke mana para doktor Islam, ke mana para profesor Islam, ke mana para pemimpin organisasi masyarakat Islam mereka-mereka ini di mana kenapa tidak hadir menjadi lokomotif untuk membawa umat ke jalan yang benar sesuai alquran dan sunnah. Padalah alquran telah mengatakan bahwa ia adalah petunjuk bagi manusia tapi fungsi ini juga tidak di jalankan secara positif, mereka-mereka ini hanya dijalankan secara normatif saja.

Masihkah Islam Menjadi Gerakan Pemecah Kebuntuan?

Sudah sangat jelas umat Islam telah di hadapkan dengan realitas yang terombang-ambing di ambang sejarah, jumlahnya banyak seperti buih di lautan tetapi tidak punya daya gerak yang menang, selalu kalah dalam perlombaan sejarah. Kemiskinan dan kebodohan adalah lawan utama Islam dan Indonesia yang harus diselesaikan dengan cermat dan penuh strategi. Muncul sebuah pertanyaan, masalah yang berkepanjangan ini harus ditanggulangi oleh siapa? Itu yang harus dijawab oleh umat Islam dan warga negara Indonesia.

Menurut hemat saya, umat Islam dan Indonesia ini butuh nabi baru, bukan nabi teologi tetapi nabi sosial yang memiliki karakter berani, cerdas, mampu mengorganisir rakyat, konsisten melakukan perlawanan terhadap kezaliman, tidak takut miskin, tidak takut mati dan tidak tertipu dengan dunia dan seisinya. Dan itu harus muncul dari kalangan penganut agama terbanyak yaitu Islam, karena penganut agama inilah yang paling membuat keonaran dan kezaliman (Mencuri uang negara) juga di saat yang sama penganut agama inilah yang paling banyak mengalami kezaliman (miskin, tidak dapat keadilan dan bodoh).

Kita harus jujur sebagai bangsa bahwa tidak ada keadilan di bangsa ini, sila kelima Pancasila yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” menurut Ahmad Syafii Ma’arif adalah sila yatim piatu, sudah lama sila ini melayang dilangit tinggi tidak bisa dibawah turun kebumi oleh para elit bangsa dan pemuka agama serta kaum intelektual. Padahal kata Allah Tegakkanlah Keadilan Karena Allah, tetapi kita tidak menemukan keadilan ekonomi, keadilan hukum, keadilan pendidikan, keadilan akses pembangunan dibangsa ini.

Banyak pejabat penghianat di bangsa ini mereka beridentitas Pancasila dan demokrasi dan mengakui dirinya sebagai pelayan rakyat tetapi rakyatnya di tinggal di belakang dan mereka berdansa di atas penderitaan rakyat, tentu ini adalah kezaliman yang nyata. Juga di saat yang sama banyak penakut dan penghianat dalam Islam Indonesia, banyak ulama dan intelektual muslim penakut dan lumpuh di hadapan realitas sosial yang luar biasa ketimpangannya, tidak ada keadilan di negeri ini.

Banyak dari kelompok Islam di sana ada ulama, sarjana muslim, profesor muslim, organisasi masyarakat muslim (Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama), organisasi pemuda muslim mereka tiba-tiba diam seribu bahasa dan lumpuh di tengah penderitaan dan kesengsaraan rakyat. Bisa jadi memang Islam sebagai paham pergerakan telah gagal di tangan mereka-mereka ini. Makanya wajar di masa lalu Tan Malaka dan Haji Misbach menggunakan Komunisme sebagai alat perjuangan melawan penjajah karena Islamisme di Indonesia tidak tahu cara melawan bisanya Cuma mengaji dan berdoa saja, itu tidak salah tetapi kalau mau kita bandingkan dengan komunisme dan sosialisme Islam kalah jauh dalam persoalan melawan ketidakadilan.

Dan kita telah melihat realitas hari ini Islamisme dan juga nasionalisme sebagai paham dalam melestarikan demokrasi telah menemui kegagalannya sendiri karena telalu main aman, karena terlalu bersahabat dengan kekuasaan sehingga yang terjadi hilangnya sensitivitas sosial-kemanusiaan, karena mereka-mereka ini perutnya sudah kenyang sehingga aktivitas hidupnya hanya di arahkan untuk ibadah normatif saja, salat lima waktu, puasa, zikir, zakat dan haji tetapi tidak berani melawan ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan, kan kacau cara bertindaknya jika seperti ini.

Masih Relevankan Muhammadiyah Sebagai Alat Perjuangan?

Umat Islam ini butuh nabi baru untuk menghidupkan kembali api perjuangan yang sesungguhnya, sebagai mana pada tahun 1912 muncul seorang kiai dan ulama sekaligus intelektual muslim bernama Kiai Dahlan yang hadir sebagai pemberani, selalu terjaga sensitivitasnya, tidak takut miskin, tidak takut mati dan selalu ikhlas dan sabar dalam berjuang. Kita butuh nabi sosial-kemanusiaan seperti ini, sebenarnya Kiai Dahlan ini telah meninggalkan sebuah instrumen perjuangan bernama Muhammadiyah yang memiliki arti “pengikut nabi Muhammad”.

Namun sayangnya instrumen tersebut mengalami mis-orientasi yang awalnya sebagai alat dakwah perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, ketidaksetaraan yang berlandaskan alquran dan hadis al-makbulah kini nasibnya dimanfaatkan oleh sebagian kalangan bukan untuk sebagai alat perjuangan tetapi alat menjilat kekuasaan agar mendapat jabatan. Muhammadiyah saat-saat ini tidak lagi ideal menjadi alat perjuangan melawan kemiskinan, hari-hari ini Muhammadiyah sangat sibuk mengurus kekayaannya sendiri dan menghiraukan kaum-kaum mustadafin.

Saya tahu banyak sekali karya-karya Muhammadiyah sepeti Panti Asuhan, Sekolah, Universitas dan rumah sakit yang menolong rakyat, tapi harus diingat bahwa gerakan ini adalah karya Kiai Dahlan beserta muridnya, perhari ini gerakan itu justru hanya dijadikan sebagai alat pengumpul kekayaan dengan dalih sosial dan untuk membanggakan diri, jelas ini tidak sejalan dengan semangat berdirinya Muhammadiyah.

Umat ini butuh pemimpin yang bisa membawa mereka keluar dari kemelut zaman, pemerintah tidak lagi menjadi harapan bagi mereka. Karena pemerintah terlihat tidak mampu mengeluarkan rakyat dari kemiskinan maka dengan jalan Islam yang sebenar-benarnya adalah solusinya. Kita butuh alquran sebagai petunjuk manusia (huda llinnas)

Editor: Renci

Add a Comment

Your email address will not be published.

Call for Paper

Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda