Mentalitas Ilmiah dan Kemiskinan Pemikiran Keagamaan dalam Timbangan Sadiq Jalal Al-Azm (1)

Oleh: A.R. Bahry Al Farizi

Pemikiran manusia, yang merupakan hasil refleksi, berada dalam dialektika antara subjektivitas dan objektivitas. Subjektivitas tertanam dalam konteks ruang dan waktu yang spesifik, sementara objektivitas muncul ketika pemikiran tersebut mampu melampaui batas-batas kontekstual dan memiliki implikasi praktis. Karya Karl Marx, misalnya, menunjukkan bagaimana pemikiran yang dihasilkan pada abad ke-19 tetap relevan hingga kini karena berhasil menangkap aspek-aspek universal dari realitas sosial.

Dalam menelaah pemikiran, penting untuk mengidentifikasi aspek universal dan partikular secara simultan. Karya Sadiq Jalal Al-Azm, Critique of Religious Thought, dapat dijadikan contoh untuk melihat bagaimana seorang pemikir Marxis menganalisis fenomena keagamaan dalam konteks sejarah dan sosial yang spesifik, namun tetap relevan secara lintas-temporal.

Mengadopsi kerangka analisis Lucien Goldmann, kajian terhadap pemikiran Sadiq Jalal al-Azm dapat dibedah menjadi dua dimensi kesejarahan. Pertama, dimensi mikro yang menelusuri bagaimana pengalaman pribadi dan interaksi sosial Al-Azm membentuk pemikirannya. Kedua, dimensi makro yang menempatkan pemikirannya dalam konteks sejarah yang lebih luas, seperti dampak kekalahan Perang Enam Hari terhadap dinamika sosial dan keagamaan di dunia Arab.

Analisis biografi intelektual Al-Azm menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana konteks sosio-historis, budaya, dan politik membentuk serta dipengaruhi oleh pemikirannya. Dengan demikian, pemikiran Al-Azm tidak hanya dipandang sebagai produk dari lingkungannya, tetapi juga sebagai kekuatan yang turut membentuk lingkungan tersebut.

Biografi Singkat Sadiq Jalal Al-Azm

Sadiq Jalal al-Azm, seorang intelektual Arab yang berpengaruh, dikenal karena pemikirannya yang kritis dan komitmennya terhadap demokrasi dan kebebasan berbicara. Karya-karyanya, terutama In Defense of Materialism and History, menyajikan analisis mendalam tentang filsafat materialisme historis dan kritik terhadap pemikiran agama. Al-Azm juga aktif terlibat dalam politik, khususnya dalam gerakan pan-Arabisme dan perjuangan untuk reformasi demokrasi di Suriah. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Al-Azm tetap konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai universal seperti rasionalitas, pluralisme, dan toleransi.

Kehidupan intelektual Sadiq Jalal al-Azm dapat dibagi menjadi tiga periode yang mencerminkan dinamika pemikirannya dalam konteks sejarah yang terus berubah. Periode pertama, yang ditandai dengan aktivitas akademik di Beirut, menunjukkan minat Al-Azm terhadap filsafat dan pemikiran kritis. Periode kedua, di Damaskus, menandai keterlibatannya yang lebih aktif dalam politik dan isu-isu sosial. Periode ketiga, yang bersifat transnasional, menunjukkan dimensi global dari pemikiran Al-Azm. Ketiga periode ini juga mencerminkan tiga aspek kepribadian intelektual Al-Azm: sebagai akademisi, aktivis, dan individu yang kompleks. Kombinasi dari ketiga aspek ini menjadikan Al-Azm sosok yang unik dalam lanskap intelektual Arab.

Latar belakang keluarga aristokrat Sadiq Jalal al-Azm di Damaskus, yang memiliki kecenderungan sekular sejak tahun 1930-an, telah memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan pandangan dunianya. Sekularisme elitis yang diwariskan kepadanya kemudian disinergikan dengan ideologi kiri, membentuk sebuah identitas intelektual yang unik. Al-Azm memandang dirinya sebagai seorang kosmopolitan yang memiliki keterikatan mendalam, bukan hanya pada identitas nasionalnya, melainkan juga pada nilai-nilai universal.

Perbedaan yang tampak antara Al-Azm dan lingkungan sekitarnya dapat dijelaskan melalui pola asuh, pendidikan, dan kepribadiannya yang khas. Sifatnya yang kritis dan independen membuatnya sulit untuk didekati secara personal. Al-Azm sendiri lebih mengutamakan dialog intelektual daripada membangun basis massa pengikut. Pilihan ini mencerminkan komitmennya pada nilai-nilai demokratis dan penolakannya terhadap segala bentuk fanatisme.

Sadiq Jalal al-Azm telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemikiran Arab kontemporer. Karya-karyanya telah memicu perdebatan sengit tentang agama, politik, dan identitas. Meskipun pemikirannya seringkali kontroversial, Al-Azm tetap menjadi salah satu tokoh intelektual yang paling berpengaruh di dunia Arab. Komitmennya terhadap rasionalitas, kritik, dan kebebasan intelektual telah menginspirasi generasi baru intelektual Arab.

Kritik Terhadap Ambivalensi Intelektual

Sadiq Jalal al-Azm menghadapi dilema mendalam ketika menyaksikan transformasi ideologi Marxisme dalam konteks politik Timur Tengah kontemporer. Ketidakkonsistenan sejumlah tokoh Marxis internasional, yang awalnya kritis terhadap otoritarianisme, dalam merespons konflik Suriah menjadi sorotan tajam dalam pemikiran Al-Azm.

Al-Azm mengamati dengan kecewa bagaimana beberapa intelektual Marxis terkemuka, seperti Slavoj Žižek dan Noam Chomsky, cenderung meminimalisir pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim Bashar al-Assad. Argumentasi mereka yang memprioritaskan dimensi sosial-ekonomi atas isu-isu demokrasi dan hak asasi manusia dianggap oleh Al-Azm sebagai suatu penyimpangan dari prinsip-prinsip dasar Marxisme.

Sikap ambivalen para intelektual ini terhadap rezim otoriter, menurut Al-Azm, tidak hanya mengkhianati nilai-nilai yang selama ini mereka perjuangkan, tetapi juga membuka ruang bagi interpretasi yang sempit dan reduksionis terhadap Marxisme. Al-Azm menegaskan bahwa Marxisme sejati harus senantiasa berpihak pada perjuangan kemanusiaan dan keadilan sosial, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Noam Chomsky, dalam kuliahnya di Harvard pada tahun 2015, telah memicu kontroversi dengan memberikan dukungan implisit terhadap narasi rezim Suriah terkait konflik yang sedang berlangsung. Dengan melabeli seluruh spektrum oposisi Suriah sebagai ‘jihadis’, Chomsky secara tidak langsung mengesahkan tindakan represif rezim Assad. Posisi Chomsky ini menyoroti paradoks dalam pemikiran sebagian kalangan kiri yang seringkali kritis terhadap intervensi Barat, namun dalam kasus Suriah justru memberikan legitimasi terhadap tindakan militer Rusia.

Berbeda dengan Chomsky, Sadiq Jalal al-Azm secara konsisten mendukung revolusi Suriah. Al-Azm melakukan analisis mendalam terhadap konflik ini dan berargumen bahwa tuntutan demokratisasi yang diajukan oleh oposisi Suriah adalah sah dan sejalan dengan prinsip-prinsip universal hak asasi manusia. Ia mengkritik rezim Assad karena gagal memenuhi aspirasi rakyat Suriah untuk mencapai pemerintahan yang inklusif dan demokratis.

Al-Azm menolak untuk menggunakan istilah ‘perang saudara’ dalam menggambarkan konflik Suriah. Menurutnya, konflik ini lebih tepat disebut sebagai perang yang dilancarkan oleh rezim terhadap rakyatnya. Al-Azm membedakan situasi di Suriah dengan konflik Lebanon, di mana berbagai kelompok saling berperang. Dalam konteks Suriah, ia melihat adanya konsensus yang relatif luas di antara kelompok oposisi dalam menentang rezim Assad.

Sadiq Jalal al-Azm mengidentifikasi dua tantangan utama yang dihadapi oleh gerakan Kiri kontemporer: pertama, bagaimana merespons kebangkitan partai-partai Islamis dan kedua, bagaimana mengevaluasi revolusi Arab.

Al-Azm mengkritik kecenderungan di kalangan Kiri untuk menolak kerja sama dengan partai-partai Islamis, bahkan ketika partai-partai tersebut menjadi kekuatan politik yang signifikan. Ia berargumen bahwa pendekatan yang terlalu kaku dapat mengisolasi gerakan Kiri dan menghambat upaya untuk membangun koalisi yang lebih luas.

Terkait dengan revolusi Arab, Al-Azm mengecam kecenderungan di kalangan Kiri untuk mereduksi gerakan-gerakan ini menjadi sekadar proyek imperialis atau ekspresi dari fundamentalisme agama. Ia berpendapat bahwa pandangan semacam ini mengabaikan aspirasi demokratis yang mendasari revolusi-revolusi tersebut.

Al-Azm mendiagnosis akar dari dilema ini sebagai akibat dari akhir Perang Dingin. Menurutnya, banyak kelompok Kiri kembali ke identitas primordial dan doktriner, sehingga kesulitan untuk menerima pluralisme dan perbedaan pendapat. Akibatnya, mereka cenderung melihat dunia dalam kacamata hitam-putih, di mana setiap konflik harus dijelaskan dalam kerangka pertentangan antara kekuatan-kekuatan besar.

Al-Azm menawarkan alternatif yang lebih bernuansa. Ia berargumen bahwa gerakan Kiri harus kembali ke akar-akarnya yang demokratis dan inklusif. Ini berarti menerima keberagaman pandangan dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki tujuan yang sama, meskipun mungkin memiliki perbedaan ideologi.

Ia pun mengkritik pandangan reduksionis yang seringkali mendominasi diskursus tentang sejarah Arab. Pandangan ini cenderung menyederhanakan kompleksitas sejarah Arab dengan hanya melihat kolonialisme sebagai satu-satunya faktor penentu.

Al-Azm berargumen bahwa dengan hanya fokus pada kolonialisme, kita mengabaikan faktor-faktor lain yang sama pentingnya dalam membentuk masyarakat Arab, seperti struktur sosial, budaya, dan ideologi. Ia menekankan bahwa kolonialisme bukanlah satu-satunya kekuatan yang bekerja dalam sejarah Arab, melainkan hanya salah satu bagian dari sebuah sistem yang kompleks.

Al-Azm mengidentifikasi dua konsekuensi utama dari pandangan reduksionis ini. Pertama, pengabaian terhadap faktor-faktor kultural. Dengan terlalu fokus pada kolonialisme, kita cenderung mengabaikan peran penting yang dimainkan oleh budaya, ideologi, dan mentalitas dalam membentuk masyarakat Arab. Faktor-faktor ini, seperti agama, tradisi, dan nilai-nilai, memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk perilaku individu dan kolektif. Kedua, romantisasi masa lalu. Pandangan reduksionis seringkali diiringi oleh romantisiasi masa lalu. Dengan melihat kolonialisme sebagai satu-satunya sumber masalah, kita cenderung idealisasi masa lalu sebelum kolonialisme sebagai periode keemasan. Hal ini mengarah pada penolakan terhadap perubahan dan modernisasi, serta pada kecenderungan untuk kembali ke akar-akar agama dan tradisi.

Pandangan reduksionis ini memiliki implikasi yang serius bagi gerakan pembebasan Arab. Dengan mengabaikan kompleksitas sejarah Arab, gerakan pembebasan cenderung mengadopsi solusi yang terlalu sederhana dan tidak memadai. Mereka seringkali hanya fokus pada penghapusan kolonialisme, tanpa memperhatikan transformasi yang diperlukan dalam bidang sosial, budaya, dan politik.

Lanjutan>>

Add a Comment

Your email address will not be published.

Call for Paper

Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda