Pendidikan Membutuhkan Ketauladanan

Oleh: Ummu Saadah (Pegiat JIMM Sulsel)

Saya pernah terjeda pada saat membaca sebuah kutipan dalam buku Dienul Islam yang ditulis oleh KH. Nasruddin Razak, kutipan tersebut berbunyi “Apabila guru kencing berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari, dan apabila guru kencing sambil berlari maka murid akan kencing sambil manari-nari”. Tulisan tersebut cukup membuat saya terjeda dan memikirkan kembali bagaimana seharusnya guru berperan dalam sebuah institusi pendidikan.

Guru yang digambarkan dalam tulisan tersebut sebagai seorang yang akan ditiru perbuatannya oleh siswa, bahkan siswa bisa melebihi dari apa yang diperbuat oleh gurunya. Mungkin makna tersirat dalam kutipan tersebut yaitu “keteladanan”. Jika kita melihat kembali bagaimana peran guru yang diharapkan dalam pendidikan, guru selalu dituntut untuk dapat menampilkan versi terbaik dari dirinya, sehingga apa yang diucapkan dan dilakukan dapat di gugu dan ditiru oleh muridnya.

Dalam bahasa pendidikan disebut sebagai kompetensi kepribadian. Kompetensi tersebut hanyalah satu dari empat kompetensi yang diharapkan oleh pendidikan kita. Pada Pasal 6 Ayat 5 Perdirjen GTK nomor 2626/B/HK.04.01/2023 tentang Model Kompetensi Guru disebutkan bahwa kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.

Mengapa guru kemudian dituntut untuk memiliki kepribadian yang mulia tersebut? Jika kita menelusuri bagaimana peran guru dalam sebuah pendidikan, yaitu sebagai pendidik yang bertanggung jawab untuk mengajar, membimbing, dan membentuk siswa menjadi individu yang berpengetahuan dan berkarakter baik, maka mungkin kita menemukan jawabannya bahwa karena guru memiliki pengaruh yang dahsyat baik itu dari tutur katanya maupun tindakannya. Tentunya akan menjadi boomerang bagi guru jika tutur kata dan tindakannya menyalahi nilai.

Guru akan menjadi orang yang pertama tersangka jika peserta didik membuat kesalahan dan tentunya ia juga tersangka dalam kasus rendahnya kualitas pendidikan. Tidak bisa dipungkiri guru juga merupakan manusia, dan selayaknya manusia tentunya guru tidak luput dalan salah dan khilaf. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk terus berbuat salah. Apalagi dijadikan dalih sebagai bagian dari proses untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.

Seyogianya seseorang yang telah memutuskan menjadi guru harus mampu memahami profesinya sebagai seorang guru. Keteladanan adalah kunci dari pendidikan utamanya pendidikan karakter. Guru merupakan salah satu sumber keteladanan. Perilaku yang baik diharapkan menjadi teladan bagi peserta didik untuk dicontohnya. Jika guru menginginkann peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai budaya yang ada maka guru adalah yang pertama memberikan contoh.

Seperti teori Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang menekankan pada peniruan dengan cara mencontoh orang lain. Peniruan tersebut akan menghasilkan penguatan. Keteladanan dari guru akan lebih menguatkan siswa dari pada hanya nasihat-nasihat dari guru, apalagi nasihat itu juga kemudian dilanggar oleh guru itu sendiri. Namun tentu saja, guru bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab akan keberhasilan pendidikan suatu negara. Tapi orang tua dan masyarakat juga turut andil dalam mencapai keberhasilan tersebut.

Sebagaimana teori Tripusat Pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa ada tiga fokus pendidikan yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Tentunya dibutuhkan sinergitas antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Sebab keteladanan harus datang dari mereka yang telah dewasa, sehingga anak-anak bisa tahu siapa yang betul dapat mereka percaya dan ikuti baik dari tutur katanya maupun dari tindakannya. Olehnya itu, jangan pernah menyalahkan bagaimana perilaku anak-anak sekarang, tapi lihatlah kembali pada diri sendiri, apakah kita telah menjadi sebaik-baik teuladan buat mereka?.

Add a Comment

Your email address will not be published.

Call for Paper

Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda