Membangun Gerakan Riset di Muhammadiyah
Ahmad Rizky M. Umar
Syahdan, KH. Ahmad Dahlan dulu pernah berpesan, “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.”
*****
Saya ingin memulai dengan satu cerita. Ketika berkuliah di jenjang sarjana, saya menemani Bapak ke sebuah toko buku Muhammadiyah di bilangan Kauman. Toko bukunya memang sudah sering saya datangi, tetapi kali ini ada sesuatu yang mengusik hati: soal buku-buku. Seperti biasa, ketika masuk ke toko buku, saya langsung bertemu dengan buku-buku “kemuhammadiyahan”: serial idelogi-nya Haedar Nashir, sejarah cabang dan ranting, pengajian, hingga materi-materi ibadah mahdhah. Selain itu, ada banyak buku agama, baik dari penerbit yang berafilasi dengan Muhammadiyah maupun dari organisasi lain.
Mungkin karena profesi yang saya tekuni sekarang menuntut saya untuk banyak menulis dan membaca literatur, saya jadi tertarik untuk memberikan catatan soal buku-buku ini. Muhammadiyah dikenal banyak punya universitas dan sekolah. Konsekuensinya, dosen dan profesornya juga pasti banyak.
Tentu saja karena jangkauan Muhammadiyah yang memang mensional dengan struktur organisasi “raksaksa”, universitas itu tersebar di seluruh Indonesia. Wajar jika Muhammadiyah kemudian dikenal sebagai organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia: jumlah universitasnya besar, mahasiswanya berdatangan dan keluar setiap tahun.
Namun, agak ironis ketika saya datang ke toko-toko buku Muhammadiyah, saya mendapati sesuatu yang kosong: ternyata tidak banyak buku-buku ilmiah yang ditulis baik oleh kader, civitas akademika di Universitas-Universitas Muhammadiyah, maupun para peneliti yang berkolaborasi/menulis tentang Muhammadiyah.
Ada dua toko buku Muhammadiyah di Kauman yang menjual buku-buku Muhammadiyah. Namun, dari dua toko buku berlantai dua tersebut, saya tidak menemukan banyak buku-buku “ilmiah” atau hasil riset. Yang saya temukan, selain buku-buku “ideologis” tersebut, justru bertolak belakang dengan semangat “Islam Berkemajuan” yang dibawa Muhammadiyah: buku “harakah”, zikir, maupun polemik-polemik fiqh ibadah yang seharusnya sudah selesai melalui forum Tarjih.
******
Pada tahun 2015, di sebuah Konferensi di UIN Ciputat, saya bertemu dan berdiskusi dengan Prof. Mitsuo Nakamura, seorang Indonesianis asal Jepang yang banyak menulis tentang Muhammadiyah. Beliau memuji, sedikit banyaknya, perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesatnya terutama di Yogyakarta (beliau menulis tentang Muhammadiyah di Kotagede). Namun, agaknya perkembangan pesat Muhammadiyah ini justru tidak dibarengi oleh pengembangan sumber daya dan basis pengetahuan yang kuat.
Hal ini bisa dilihat pada satu masalah yang sering dikeluhkan oleh warga Muhammadiyah: “hilangnya” kader dan masjid Muhammadiyah ke tangan gerakan lain yang juga berebut kader muda. Sekitar 10 tahun, yang dikeluhkan adalah warga Muhammadiyah yang berdiaspora ke Jamaah Tarbiyah alias PKS. Sekarang, setelah PKS berpecah belah, warga muda Muhammadiyah juga berpencar ke arena profesional yang sedikit banyaknya juga
*****
Setelah kemudian berkuliah di jenjang pascasarjana dan kemudian berkesempatan mengurusi Muhammadiyah di luar negeri, saya berefleksi lain lagi. Masalah ‘kader yang lari’ atau “ideologi yang keropos” (seperti sering disinggung pak Haedar) bisa jadi bukan karena kader-nya yang lari menjauh dari persyarikatan. Ada satu hal lainm yakni karena juga karena dinamika zaman yang kini menghadirkan opsi-opsi alternatif pengembangan pengetahuan di luar persyarikatan.
Persoalan yang dihadapi oleh banyak kader muda Muhammadiyah bermuara pada satu hakl yang sederhana: tidak banyak wadah artikulasi yang diberikan oleh Muhammadiyah. Akibatnya, kader-kader intelektual muda seperti menjauh dari Muhammadiyah, karena mereka mendapatkan sesuatu yang bernilai bagi mereka secara professional.
Sebagai seorang warga Muhammadiyah generasi milenial yang lahir di decade 1990an, ada satu hal yang saya lihat: nilai professional ini akan didapat di banyak tempat lain yang tidak tersentuh Muhammadiyah. Entah Lembaga riset, laboratorium, start-up, atau malah Lembaga konsultan publik yang memungkinkan anak-anak muda berkarier secara professional.
Tidak adanya wadah artikulasi itu mungkin bukan salah kader-kadernya, tetapi bisa jadi soal kegagapan lembaga menghadapi tantangan-tantangan zaman yang semakin berkembang.Hal-hal semacam ini, jika direfleksikan sebagai warga Muhammadiyah, bisa jadi memberikan satu hal: pentingnya adaptasi bagi persyarikatan untuk menciptakan ruang artikulasi warga muda Muhammadiyah untuk berkarya.
******
Menurut saya, ada tiga agenda penting yang harus menjadi bahan pikiran dan otokritik pada Muktamar Pemikiran Muhammadiyah akhir tahun ini. Agenda pembaharuan pertama adalah membangun tradisi dan gerakan riset di Muhammadiyah. Penting untuk mereorientasi pembaharuan pemikiran (tajdid)di kalangan anak muda Muhammadiyah bukan (hanya) terbatas pada pemikiran Islam, tetapi juga pengembangan pengetahuan.
Muhammadiyah tidak hanya butuh perguruan tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah dan dosen-dosen di dalamnya, tetapi juga peneliti. Peneltiian adalah bagian dari ruh tajdid Muhammadiyah di abad ke-21. KH Ahmad Dahlan secara gamblang mendorong warga Muhammadiyah untuk (terlebih dulu) menjadi seorang professional) dan kemudian Kembali berkontribusi pada Persyarikatan Muhammadiyah. Atau, jika kita baca secara berbeda, Muhammadiyah mesti “mewadahkan” para peneliti dan pemikir di dalamnya agar bisa produktif menghasilkan pengetahuan.
Hari ini, Muhammadiyah sudah memiliki banyak perguruan tinggi Muhammadiyah. Artinya, intelektual muda yang hadir dari tubuh Muhammadiyah tidak hanya mumpuni di wilayah pengkajian Islam, tetapi juga secara punya kompetensi professional. Basis kompetensi ilmiah inilah yang ke depan perlu dikembangkan secara interdisipliner, dan melibatkan banyak disiplin ilmu, dari filsafat, sains dasar, sains terapan dan teknologi, ilmu humaniora, hingga ilmu-ilmu sosial.
Artinya: Muhammadiyah juga perlu memikirkan bagaimana mendanai riset bagi para akademisinya, dan bukan hanya membuka ruang kelas. Tak ada yang meragukan bahwa Muhammadiyah tentu tidak kekurangan akademisi dan peneliti, karena kekuatan jumlah PTM di berbagai daerah di Indonesia.
Muhammadiyah hanya perlu wadah bagi mereka untuk mengartikulasikan inisiatif akademik-intelektualnya, Secara kelembagaan ini perlu dikembangkan di struktur Muhammadiyah dengan memberikan insentif bagi penelitian, terutama penelitian yang sifatnya mendasar.
******
Agenda kedua adalah mendorong penerbitan dan produksi pengetahuan secara luas. Selain riset yang merespons masalah kontemporer,Muhammadiyah perlu punya penerbitan, baik penerbitan ilmiah ataupun Komunitas, untuk mewadahi produksi pengetahuan itu. Sebab, gerakan riset membutuhkan media untuk produksi dan sirkulasi pengetahuan, baik di kalangan warga Muhammadiyah maupun di komunitas ilmiah secara global.
Tentu saat ini sudah ada IBTimes, Rahma.ID, dan beberapa media lain yang beroperasi secara popular, dan ini perlu diapresiasi. Muhammadiyah juga perlu mendorong penerbitan universitas sebagai media komunikasi sains populer, serta sebagai wadah menerbitkan produk pengetahuan intelektualnya.
Muhammadiyah perlu memikirkan untuk, misalnya, punya Muhammadiyah University Press yang profesional di masing-masing PTM. Muhammadiyah University Press penting untuk mendorong publikasi buku dan mengonsolidasikan jurnal terbitan PTM di berbagai disiplin, sehingga produksi pengetahuan Muhammadiyah bisa dibaca oleh warga Muhammadiyah dan warga Indonesia secara umum.
Muhammadiyah juga perlu mendorong insentif untuk menerbitkan hasil-hasil penelitian para akademisi di dalamnya di jurnal yang diakui oleh asosiasi profesi di luar negeri. Penerbitan akan mengikuti proses penelitian, dan penting untuk dipikirkan secara kelembagaan. Hal ini akan mendorong kader-kader muda Muhammadiyah untuk giat menulis baik di jurnal ilmiah (yang diakui oleh komunitas ilmiah secara global) dan bisa dibaca oleh warga Muhammadiyah pada umumnya.
*******
Agenda ketiga adalah internasionalisasi riset Muhammadiyah. Hal ini sudah menjadi agenda persyarikatan selama beberapa tahun terakhir. Namun ada satu hal yang menurut saya belum terjamah: mendorong intelektual muda Muhammadiyah untuk punya kiprah global di luar lingkaran Muhammadiyah.
Di sini, intelektual Muda Muhammadiyah penting untuk terlibat di asosiasi professional di luar Indonesia, memiliki jejaring global, dan yang terpenting terlibat aktif dalam produksi dan perdebatan ilmiah di luar Indonesia. Ilmuan Muhammadiyah mesti punya reputasi yang tidak terbatas hanya pada pengkaji Islam atau para Indonesianis yang tertarik pada Muhammadiyah, tapi punya karya yang punya kontribusi ilmiah yang global.
Artinya: penting mendorong kader dan warga Muhammadiyah untuk tidak hanya kuliah di luar Indonesia, tetapi juga punya profil internasional. Memiliki profil internasional tidak melulu hanya bisa didapatkan dengan kuliah di luar negeri, tetapi juga dengan aktif menghadiri pertemuan ilmiah atau dengan cara aktif berkolaborasi dengan peneliti lain di luar Indonesia.
Di titik inilah cara pandang Muhammadiyah tentang produksi pengetahuan dan riset mesti diperbaiki. Riset tidak sekadar dimaknai hanya ‘jurnal terindeks Scopus’ dengan kuartil-kuartilnya. Riset juga perlu didorong secara substantif untuk mengkritik dan mendebat para ilmuan senior, yang memungkinkan Muhammadiyah punya sesuatu yang baru secara ilmiah.
Hal-hal semacam ini meniscyakan perubahan cara Muhammadiyah tentang penelitian. Peneltiian bukan hanya instrument kenaikan pangkat atau menjadi guru besar, melainkan instrument untuk mendorong kemajuan ilmiah, yang juga pada akhirnya mendorong kemajuan bagi Muihammadiyah. Ini tentu juga selaras dengan prinsip Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan.
Artinya, hal ini berarti juga mendorong agar pemikiran dan riset Indonesia bisa ‘bersuara’ dalam produksi pengetahuan secara lebih luas. Agenda inilah yang perlu didorong oleh Muktamar Muktamar Pemikiran Muda Muhammadiyah, agar bisa menjadi semacam wadah pertemuan untuk mengembalikan ruh Islam Berkemajuan sebenar-benarnya di tubuh persyarikatan.
Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.
*) Ahmad Rizky M. Umar adalah Ketua Pengurus Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Queensland dan Pengajar Tidak Tetap di University of Queensland dan Griffith University, Australia.