Muktamar Pemikiran Kaum Muda
Pada 8 Oktober 2003, sejumlah anak muda Muhammadiyah mendeklarasikan sebuah jaringan intelektual muda Muhammadiyah yang disingkat JIMM di Cepogo Bogor Jawa Barat. Dua puluh tahun jejaring ini dideklarasikan di bawah mentor Buya Syafii Maarif, Moeslim Abdurrahman, Muhadjir Effendy, M. Amin Abdullah, dan Haedar Nashir. Di awal berdirinya, kelahiran JIMM diharapkan para intelektual sohor seperti Deliar Noer dan Kuntowijoyo sebagai harapan baru intelektualisme di Persyarikatan Muhammadiyah. Di sisi lain, JIMM juga dikritik sebagai agen pemikiran liberal di Muhammadiyah. Tak kurang Buya Yunahar Ilyas turut memberikan kritik tajam pada kelahirannya. Itulah dinamika pemikiran yang terjadi di Muhammadiyah.
Sejak tahun 2005, pasca Muktamar Muhammadiyah di Malang, kiprah JIMM tidak terdengar lagi sebagai sebuah jejaring gerakan yang mengusung trilogi gerakan intelektual: tafsir yang membebaskan (liberatif), pendekatan ilmu sosial kritis, dan new social movement. Sebaliknya, para deklarator dan penggerak awalnya mengasah diri dengan menimba ilmu ke luar negeri —- hampir semuanya ke negeri-negeri Barat seperti Ahmad Najib Burhani, Hilman Latief, Tuti A Burhani, Piet Hizbullah Khaidir, Ahmad Fuad Fanani, Pradana Boy, dan saya sendiri.
Sekembali belajar, mereka kemudian aktif kembali di Muhammadiyah menjadi pimpinan. Hilman dan saya, misalnya, aktif menggerakkan filantropi Islam sejak Muktamar 47 di Makassar 2015. Sebelumnya, Hilman, Fuad Fanani, dan saya adalah anggota (muda) perumus Indonesia Berkemajuan yang menjadi titik pijak manifesto “Islam Berkemajuan” Muhammadiyah. Begitu juga para assabiqunal awwalun JIMM yang lain. Mereka aktif dan mencintai secara langsung dakwah multidimensional yang diusung oleh Persyarikatan. Intelektual seperti Zakiyuddin Baidhawy, Zuly Qodir, Ai Fatimah Fuad, Anisia Kumala Masyhadi adalah deklarator JIMM yang kini berkiprah di dunia pendidikan dan dakwah, baik di dalam maupun di luar Muhammadiyah. Sebagiannya seperti Fajar Riza Ul Haq dan Siti Ruhaini Dzuhayatin berkiprah di pucuk-pucuk pemerintahan selain tetap aktif di Muhammadiyah.
Setelah lima belas tahun sunyi, geliat intelektualisme di kalangan muda Muhammadiyah tampaknya mulai kembali berpijar. Jika dulu Kang Moeslim Abdurrahman dengan Teologi Al Maun dan “Kalibokong” adalah mentor intelektual kaum muda, anak-anak Moeslim perlu “turun gunung” menjadi inspirasi intelektual progresif Kyai Dahlan bagi kaum muda Muhammadiyah dan Islam untuk maju. Persyarikatan dibangun Dahlan di atas batu bata tradisi intelektualisme progresif. Muhammadiyah bisa bertahan satu abad lebih karena tradisi kritis, keterbukaan, dan perdamaian. Inilah warisan sejati Kyai Dahlan sebagai pengikut Kanjeng Nabi Muhammad.
Meski jauh ribuan kilometer, hati saya bergerak mendukung inisiatif Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda. Tema-tema yang diangkat aktuil dan kosmopolitan. Selamat bagi yang bergabung dalam gerbong Kaum Muda progresif ini.