Perempuan dan Industri Tambang: Dari Prostitusi hingga Polusi

(Laila Hanifah)

Industri Tambang yang Maskulin

Keberadaan industri tambang yang bermunculan terutama di negara-negara berkembang seolah menjadi pertanda keberhasilan transfer kemajuan sistem ekonomi, yang notabenenya dilekatkan pada gagasan kapitalisme. Beberapa pihak berusaha membela diri bahwa ekspansi kapitalisme telah melahirkan transformasi sosial besar-besaran di daerah lokal tambang, misalnya urbanisasi, modernisasi, pembangunan infrastruktur, hingga kesejahteraan masyarakat sekitar. Namun benarkah demikian? Jika memang benar demikian, maka seharusnya tidak perlu ada harga mahal yang harus dibayar sebagai sebuah konsekuensi dari sistem kapitalisme dan industri tambang.

Namun rupanya, harga mahal itu harus dibayar oleh perempuan, anak, bahkan banyak keluarga. Hal tersebut dimulai dari proyek-proyek tambang mengglobal yang telah mengubah struktur sosial budaya. Adanya industri tambang ini tak bisa dilepaskan dari dampaknya terhadap peran gender di lokasi lokal tambang. Industri tambang memiliki budaya maskulin yang khas karena selalu dilekatkan pada karakteristik sebagai pekerjaan yang berat, kotor, dan dikuasai oleh laki-laki. Budaya industri tambang yang maskulin jelas mempengaruhi pola hubungan antar gender yang terbentuk di komunitas masyarakat tersebut.

Misalnya, hal ini terlihat dari bagaimana laki-laki mendominasi pasar kerja sedemikian kuat. Asumsi industri tambang yang sangat laki-laki sentris, secara tidak langsung menyingkirkan perempuan untuk ikut merasakan kesejahteraan dari adanya industri ekonomi. Pemenangnya selalu laki-laki karena mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan akses sosial lebih besar. Bahkan menurut beberapa data, hanya sekian persen saja perempuan yang memperoleh manfaat dari batu bara dan perkebunan sawit. Faktanya, daerah-daerah termiskin di Indonesia juga justru didominasi oleh daerah yang memiliki industri-industri ekstraktif. Realita ini pada akhirnya mempertanyakan ulang tentang relasi keberadaan industri tambang dengan kesejahteraan.

Prostitusi di Lokasi Lokal Tambang

Sifat industri tambang yang maskulin memberikan perempuan ruang dan peran yang terbatas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, kurangnya kesempatan kerja pada lingkungan industri pertambangan akhirnya memaksa perempuan untuk mencari pekerjaan yang secara sosial memalukan seperti prostitusi. Prostitusi seperti menjadi cemooh keputusasaan di saat lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian para perempuan hilang serta kesempatan bekerja secara layak di industri tambang sangat kecil. Sungguh ironis.

Prostitusi di sekitar lokasi tambang memberikan efek domino yang luar biasa. Peningkatan praktik prostitusi berdampak pada meningkatnya angka penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. Di Afrika, bahkan prostitusi mempekerjakan para pekerja seks anak di bawah umur dan mengakibatkan kehamilan remaja. Penyakit ini telah menyudutkan posisi perempuan ke posisi yang paling rentan dan tidak terlindungi.

Tidak hanya prostitusi. Industri tambang telah merenggut kebahagiaan banyak rumah tangga yang hidup di sekitarnya. Meningkatnya alkoholisme, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga akibat situasi keluarga yang tidak sejahtera bersamaan dengan pengaruh alkohol, pelecehan seksual, serta terjadinya pernikahan atau hubungan yang sementara adalah rentetan derita tanpa akhir terutama bagi perempuan.

Sulit bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan dan penderitaan yang dialami karena posisi mereka yang sering dikecualikan dalam keputusan-keputusan perusahaan tambang. Para perempuan miskin di sekitar lokasi tambang tidak memiliki kuasa maupun otoritas secara politik untuk mempengaruhi keputusan para elit pengusaha tambang yang rata-rata didominasi oleh laki-laki. Secara sosial dan budaya, industri tambang telah mengembangkan gagasan mengenai kapitalisme dan maskulinitas menjadi musibah-musibah yang mengerikan.

Jangan Lupakan Persoalan Lingkungan

Proyek-proyek tambang telah menyulap lahan-lahan hijau pedesaan menjadi kawasan industri. Hal ini berpengaruh besar terhadap ketersediaan dan kualitas lahan pertanian yang dibutuhkan para perempuan untuk menyediakan makan bagi keluarga. Proses penambangan telah menurunkan tingkat kesuburan tanah karena adanya pelepasan limbah beracun dan logam berat. Air juga menjadi tercemar dan menyulitkan setiap rumah tangga untuk memperoleh air yang bersih. Buntut dari semua ini tentu saja mempengaruhi kualitas tumbuh kembang dan kesehatan anak-anak, generasi berikutnya yang diharapkan dapat menopang masa depan. Secara ekonomi, pasar-pasar lokal juga tidak mampu menghasilkan untung karena kurangnya suplai hasil pertanian.

Selain itu, polusi yang dihasilkan dari operasi tambang sering memakan korban para pekerja laki-laki, yang pada akhirnya mengharuskan perempuan untuk merawat mereka. Situasi yang demikian juga yang menjadi salah satu hambatan bagi perempuan untuk dapat bekerja secara produktif. Kondisi kesehatan para pekerja yang memburuk mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan di industri tambang, yang pada gilirannya meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan. Pengangguran menjadi siklus yang melanggengkan mata rantai kekerasan dalam rumah tangga. Siklus ini akan terus berulang selama industri tambang dan budaya maskulin itu juga terus ada. 

Tingginya angka kekerasan berbasis gender, tidak tersedianya lahan pekerjaan, serta tidak adanya ketersediaan bahan makanan dan air yang layak untuk keluarga telah menempatkan perempuan pada posisi yang memiliki beban berkali-kali lipat karena peran gendernya. Di satu sisi ia harus menerima ketidakadilan akses terhadap sumber daya yang ada, di sisi yang lain ia juga harus menanggung beban untuk menghidupi anak-anak dan anggota keluarga yang lain agar tetap makan. Dampak-dampak yang rasanya tidak pernah terpikirkan atau memang sengaja tidak dihitung oleh industri-industri ekstraktif yang merusak.

Mulai dari polusi hingga prostitusi adalah persoalan yang tidak bisa dianggap remeh, bahkan tidak pernah menjadi remeh. Pasalnya rentetan masalah ini tidak hanya merusak satu generasi, tapi juga beberapa generasi yang hidup setelahnya. Serupa domino dengan siklus yang berputar. Klaim beberapa pihak tentang modernisasi hingga pembangunan infrastruktur mungkin tidak salah, namun yang demikian itu bersifat fisik dan artifisial. Kita juga patut mempertanyakan ulang persoalan kesejahteraan, kemanusiaan, serta keadilan lingkungan. Bagaimanakah posisi pertimbangan-pertimbangan etis tersebut diperhitungkan?

Sumber : Perempuan dan Industri Tambang: Dari Prostitusi hingga Polusi

___________

Laila Hanifah, Redaktur Rahma.ID, Ketua Bidang Ipmawati Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 2021-2023

Add a Comment

Your email address will not be published.

Call for Paper

Muktamar Pemikiran Islam Kaum Muda